Feeds:
Posts
Comments

TUGAS ICT LANJUT

NASKAH LENGKAP RADIO PENDIDIKAN

 

 

Satuan Pendidikan : SMP Negeri 03 Mukomuko
Kelas / semester : VIII / 1 ( satu ) 
 Standar Kompetensi : Memahami makna dalam teks lisan fungsional dan monolog pendek sederhana berbentuk recount untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kompetensi Dasar : Merespon makna yang terdapat dalam monolog pendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam teks berbentuk recount.
Indikator : Mengidentifikasi informasi/makna yang terdapat dalam text recount
Jenis text : Recount text
Tema : Public Service (Tempat Pelayanan Umum)

 

Tujuan Pembelajaran

Pada akhir pembelajaran siswa dapat :

  1. Mengidentifikasi ide utama text recount dengan cara menjawab pertanyaan yang diberikan.
  2. Mengidentifikasi informasi rinci text recount dengan cara menjawab pertanyaanyang diberikan.
  3. Mengidentifikasi makna kata text yang berbentuk recount dengan cara mencari sinonim kata yang diberikan.
  4. Mengidentifikasi fungsi social text recount dengan memilih jawaban yang paling tepat.
  5. Mengidentifikasi langkah-langkah retorika text recount menntukan bagian kalimat yang merupakan langkah retorika tertentu.

Naskah radio ini ditulis oleh mahasiswi Universitas  Bengkulu yang mengambil mata kuliah ICT (Information and Communication Technology) pada program studi Magister Teknologi Pendidikan FKIP UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN 2010.

1. Music : PEMBUKAAN IN-UP-DOWN UNDER
2. ANNC : Inilah siaran radio pendidikan yang dikembangkan oleh jurusan Teknologi Pendidikan FKIP UNIVERSITAS BENGKULU. Siaran ini ditujukan kepada siswa-siswi kelas 8 SMPN 3 MUKOMUKO.
3. Musik : UP-DOWN-OUT
4. Narator : Selamat jumpa kembali siswa-siswi SMPN 03 Mukomuko. Pada kesempatan ini kami hadir membawakan Bidang Studi Bahasa Inggris dengan sub Bidang studi text Recount, dengan pokok Bahasan Public Service.
5. Musik : IN-UP-DOWN-OUT
6. Narator : Setelah selesai mengikuti program ini, kamu dapat :

  1. Mengidentifikasi ide utama text recount dengan cara menjawab pertanyaan yang diberikan
  2. Mengidentifikasi informasi rinci text recount dengan cara menjawab pertanyaan yang diberikan.
  3. Mengidentifikasi makna kata teks recount dengan cara mencari sinonim dari kata yang diberikan
  4. Mengidentifikasikan fungsi social teks recount dengan memilih jawaban yang paling tepat.
  5.  Mengidentifikasi langkah-langkah retorika teks recount dengan menentukan bagian kalimat yang merupakan langkah retorika tertentu.
     Contoh text recount : After you read this text plese answer these questions below !Last   semester  holiday,  my   friend   and   I  went    to  a   hotel.A receptionist welcomed us, “Can I help you ?”,she asked. I said that I wanted a double room with a bath for one night. Her assistant gave the keys to number forty two. I took the keys and went upstairs to check in. A porter helped me carry my suitcase.When we found our room, we saw unlocked the door and opened it. We got shocked when we saw fat women smoking in the room. We shouted and banged the door. We thought there were ghost in our room.We ran away and got back to the receptionist room. One of the fat women ran after me. She was so angry were very afraid.

Then we explained to the receptionist what had happened to us. She was very sorry.She had made a mistake. Our room was next door, number forty-one.Her assistant gave us the key to number forty-one.

WE returned to out room and rested there. The fat women realized it. We glad because the look of anger had disappeared room her face. We checked out the following morning.

  1. When did my friend and I go to a hotel ?
  2. Who help they carry their suitcase ?
  3. Why did they get shock ?
  4. What did  they do after yhey see the fat women smoking ?
  5. Did assistant give the key to number forty one ?
7. FX : Suara bising kendaraan
8. Saskia : Aduh bosan sekali dirumah ngak ada kerjaan, bagaimana kalau     kita jalan-jalan mengelilingi taman.
9. Andi : Boleh juga tuch, ide yang bagus, emangnya kapan kita mau     jalan-jalannya kia?
10 Sakia : Bagaimana jika sore ini An ?, mumpung cuacanya sangat indah.
11 Andi : OK deh siiplah.
12 Saskia : Kita jalan-jalannya jam 5 sore ya ntar aku jemput.
Saskia dan Andi akhirnya jadi berjalan-jalan mengelilingi kota. Disaat mereka berjalan mengelilingi taman mereka melihat seorang perempuan yang berbadan gemuk sambil merokok, lalu mereka terdiam sambil menyaksikan pemandangan tersebut, sembari berkata ,
13 Andi : Eit Sas aku jadi teringat kenangan disaat liburan semester yang  lalu ketika aku melihat wanita ini.
14 Saskia : Emangnya ada apa dengan wanita itu ? dan bicara soal liburan semester yang lalu aku jadi teringat dengan guru Bahasa Inggrisku Mom Tuti, An?
15 Andi : Oh mom Tuti dulu waktu aku dikelas 8 dia juga mengajarkan Bahasa Inggris dikelas kami, en cara dia mengingatkan kita pada pelajaran itu yang ngak kuat, contohnya ya ok anak-anak kemana aja kamu liburan semester yang lalu?ngapain aja kamu?
16 Saskia : Ya itu tadi dia selalu mengingatkan kita pada pelajaran tempat pelayanan umum karena jika kita berjalan-jalan itu kan pasti menginap dihotel,wisma pemondokan en yang pastinya jika kita telah capek berjalan-jalan pasti deh kita mampir ke restoran ya ngak An ?
17 Andi : Yap. Oh ya kembali dengan wanita tadi emangnya ada kenangan ya melihat wanita gemuk apa hubungannya Sas?
18 Saskia : Liburan yang lalu saya dan teman-teman berjalan keluar kota dan menginap disebuah hotel. Disana kami disambut oleh seorang reseptionis dan langsung menanyakan tentang pemesanan kamar. Tau ngak kamu An kami dapat kamar no 42 seru kan ?
19 Andi : Ngapain aja kalian lagi Sas?,ngomong-ngomong dari tadi kamu cerita masa lalu terus aku jadi teringat tentang pemahaman text recount Sas.
20 Saskia : Text recount itu apaan sih saya juga udah lupa nich !
21 Andi : text recount itu adalah suatu text yang menceritakan pengalaman seseorang pada masa yang telah lampau.
22 Saskia : Oh itu rupanya text recount, sekarang baru aku ingin cerita sama kamu apa yang membuat aku teringat kenangan waktu liburan dulu ketika melihat wanita gemuk itu.
23 Andi : Cerita donk, ntar kualat lo kalau ngak cerita.Apalagi aku kan soulmate mu masa ngak boleh tahu.
24 Saskia : Ok aku lanjutkan ceritaku ya disaat kami masuk ingin mencari kamar hotel tiba-tiba kami membuka sebuah kamar dan terlihat jelas seorang wanita gemuk sedang merokok,kami tutup kembali pintu dan wanita itu marah kepada kami dan  tau ngak An apa yang terjadi dengan kami?
25 Andi : Ya ngak tau donk kamu bikin aku penasaran aja lanjut dong ceritanya makin seru aja nich?
26 Saskia : Gimana kalau kita mampir dulu sambil menikmati jagung bakar sambil melanjutkan cerita okey?
27 Andi : Ok dech temanku yang baik
28 Saskia : Lalu kami berlari kearah reseptionis dan menjelaskan kepada dia tentang apa yang kami lihat.Lalu reseptionis membawa kami kembali kearah wanita tersebut dan menjelaskan duduk persoalannya dan ternyata itu hanya salah paham mengenai nomor kamar.
29 Andi : Kemudian apa lagi akhir dari cerita kamu Sas?
30 Saskia : Akhirnya kami kembali kekamar kami yang sebenarnya dan pada pagi berikutnya kami meninggalkan hotel tersebut
31 Andi : Nich  jagung tok cer banget rasanya Sas, aku pengen nambah satu lagi bolehkan ?
32 Saskia : Mengapa tidak, jagung ini juga mengingatkan aku pada saat sekembalinya kami dari melihat museum kami juga mampir menikmati jagung bakar dipantai Pangandaran.
33 Andi : ngomong-ngomong Sas ingat ngak kamu tadi tentang penjelasan text recount yang aku definisikan ?
34 Saskia : Ingat dong, text recount adalah suatu text yang menceritakan tentang pengalaman nyata seseorang dimasa lampau.Cuman aku lupa An, apa sih ciri-ciri text tersebut ?Nanti aku bisa juga lo ngajarkan adekku jika dia bertanya kan ?
35 Andi : Ciri-cirinya adalah
a. Orientation       : Pengenalan/latar belakang dan kapan serta dimana terjadinya cerita.
b.  Events             : Dimulainya suatu peristiwa dalam suatu text tersebut
c. Re-Orientation : Pengembalian dari suatu cerita.
36 Musik : IN-UP-DOWN-OUT
37 Rina : Hey kalian rupanya sedang disini aku cari-cari dirumah ngak ketemu aku mau nanya tentang PR yang diberikan Mom Tuti dong.
38 Saskia : PR yang mana tuch ?
39 Rina : Tentang tempat pelayanan umum dan mencari sebuah text recount tentang pengalaman dimasa liburan kemaren
40 Saskia : Oh itu, kebetulan Rin  kami memang sedang membahas hal tersebut karena kebetulan tadi terinspirasi ketika melihat seorang wanita gemuk yang duduk dekat taman.
41 Andi : Emangnya kamu tahu ngak Rin  apa sih pengertian text recount ?
42 Rina : Tau dong,  text recout adalah suatu text yang menceritakan tentang pengalaman pribadi seseorang dimasa yang telah lampau. Cuman aku lupa ciri-cirinya dan menentukan generic structurenya text tersebut.
43 Andi : Baiklah akan aku ulangi cirri-ciri text tersebut antara lain ada orientation, Events, Re-Orientation dan biasanya menggunakan Verb 2 simple past tense.
44 Rina : Oh ya aku paham sekarang, gini  Andi,  aku dapat tugas dari guru Bahasa Inggis ku . Kami disuruh mencari sebuah text recount yang temanya tentang tempat pelayanan umum boleh Rumah Sakit, Hotel, Restaurant ataupun kantor pos, kemudian buatkan pengalaman pribadi kita tentang tempat pelayanan umum tersebut setelah itu buat 5 buah pertanyaan dari text tersebut.
45 Andi : Aku ada loh contoh text recount tentang pengalaman pribadiku bersama teman-teman disaat kami pergi kehotel liburan yang lalu,aku rasa kamu bisa kan mencari generic structurenya ?( sambil memberikan selembar kertas tentang text recount ).
46 Saskia : Denger   nich  ya aku akan jelaskan tentang text recount  ini  Pastinya  aku   bisa  dong An, denger   nich ya :-     Text recount adalah suatu text yang menceritakaan tentang pengalaman pribadi seseorang dimasa lampau.-     Tujuan text recount adalah untuk amuse/entertain the reader (untuk menghibur pembaca)-     Generic structure/social text (Ciri-cirinya adalah):

  • Orientation       : Liburan semester yang lalu disebuah hotel.
  • Events              : Disaat tiba-tiba kami melihat seorang wanita gemuk yang merokok dan kami cemas dan takut.
  • Re-Orientation :  Kami pulang pada hari berikutnya setelah beberapa hari di hotel tersebut.
47 Andi : Tepat sekali jawabanmu Sas, mudah-mudahan kamu bisa mencari text yang lain dan mencari generic structure dari text recount, ok!
48 Saskia : Eit ngomong-ngomong hari udah mau ujan nich, gimana kalau kita pulang ntar keburu ujan turun lagi,kita lanjutkan besok aja diskusinya disekolah gimana ?
49 Andi : OK dech siapa takut sekalian bisa mengulang pelajaran ntar kalau udah sampai dirumah (sambil berjalan beriringan mereka bertiga (Saskia, Andi , dan Rina beranjak pulang kerumah masing-masing sambil bercanda)
50 Musik : PENUTUP. IN-UP-DOWN-UNDER
51 Narator : Demikianlah anak-anak percakapan antara Saskia, Andi dan Rina yang membahas tentang text recount dengan tema tempat pelayanan umum.
52 Musik : UP-DOWN-OUT
53 Anne : Sampai disini perjumpaan kita untuk kali ini, dan kita akan berjumpa kembali pada paket yang akan datang.

PEMBELAJARAN BERBASIS ICT DASAR

Pembelajaran berbasis Radio/media audio

            Media audio adalah media yang berkaitan dengan indera pendengaran.Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambing-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal.Ada beberapa jenis media dapat kita kelompokkan dalam media audio, antara lain radio, alat perekam pita magnetic, piringan hitam, dan laboratorium bahasa.

Pada pembelajaran kali ini media audio yang kami ambil adalah radio. Radio merupakan suatu media yang memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media lain yaitu :

  1. Harganya relative murah dan variasi programnya lebih banyak dibandingkan daripada TV.
  2. Sifatnya mudah dipindahkan (mobile).Radio dapat dipindah-pindahkan dari suatu ruangan keruangan lain dengan mudah.
  3. Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal karena program dapat direkam dan diputar lagi sesuka kita.
  4. Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.
  5. Dapat meransang partisipasi aktif pendengar.Sambil mendengarkan siswa boleh menggambar, menulis, melihat peta, menyanyi ataupun menari.
  6. Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan,pada bunyi dan artinya.(Terutama ini amat berguna bagi program satra/puisi.
  7. Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan music dan bahasa.
  8. Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik bila dibandingkan  dengan jika dikerjakan oleh guru, antara lain :
  1. Radio dapat menampilkan kedalam kelas guru-guru yang ahli dalam bidang studi tertentu, sehingga dapat mengatasi masalah kekurangan guru yang layak untuk mengajar.
  2. Pelajaran lewat radio lebih bermutu baik dari segi ilmiah maupun metodis.Ini mengingat guru-guru kita jarang yang mempenyai waktu dan sumber-sumber untuk mengadakan penelitian dan menambah ilmu, sehingga bisa dibayangkan bagaimana mutu pelajarannya.
  3. Radio dapat menyajikan laporan-laporan seketika (on the spot).Pelayanan radio yang sudah maju mempunyai banyak sumber diperpustakaan arsipnya yang siap dipakai.
  4. Siaran-siaran yang actual dapat memberikan suasana kesegaran(immediciacy) pada sebagian topic.
  1. Radio dapat juga mengerjakan hal-hal tertentu yang tak dapat dikerjakan oleh guru.Dia dapat menyajikan pengalaman-pengalaman dunia luar ke kelas.Kisah petualangan seorang pengembara bisa dituturkan ke kelas-kelas secara langsung lewat radio.
  2. Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu; jangkauannya luas.

Selain kelebihan-kelebihan, radio pun memiliki kelemahan-kelemahan antara lain :

  1. Sifat komunikasinya hanya satu arah.(One way communication)
  2. Biasanya siaran disentralisasikan sehingga guru tak dapat mengontrolnya.
  3. Penjadwalan pelajaran dan siaran sering menimbulkan masalah.Integrasi siaran radio kedalam kegiatan belajar mengajar dikelas sering kali menyulitkan.

MAKALAH INOVASI

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

A. LATAR BELAKANG MASALAH

 

Bahasa Inggris merupakan salah satu pelajaran yang di UAN kan dan diajarkan dari tingkat Sekolah dasar sampai dengan Sekolah lanjutan Atas (SLTA) memiliki fungsi yang sangat penting dalam rangka pemahaman empat konsep yakni membaca,menulis,mendengarkan dan berbicara. Melalui mata pelajaran Bahasa inggris ini diharapkan siswa dapat memahami dan mempelajari empat konsep tersebut ,disamping Bahasa Inggris merupakan salah satu pelajaran yang di UANkan, maka perlu pengajaran yang intensife dengan menggunakan suatu pendekatan yakni pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL).

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat pemahaman dibidang Bahasa Inggris bukan saja hanya perlu didapati disekolah tetapi juga perlu memperoleh pengajaran diluar melalui kursus-kursus yang ada diluar sekolah.Seperti yang kita ketahui bahwa sanya banyak siswa-siswi kita yang menganggap pelajaran Bahasa Inggris sebagai salah satu pelajaran yang menakutkan selain matematika dan fisika.

Dengan fenomena tersebut diatas penulis mencoba memaparkan konsep pengajaran Contextual Teaching Learning dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari pengertian metode CTL diatas, ada 3 hal yang harus kita pahami :

    1. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
    2. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
    3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan,artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya,akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari konsep diatas dapat kita lihat hasil yang dicapai siswa-siswi kita khususnya daerah Mukomuko untuk hasil UN selalu meperoleh hasil yang jelek dan peringkat selalu satu tingkat terbawah.Khusus SMP untuk 4 mata pelajaran yang di UN kan Bahasa Inggris sangat jarang menempati posisi atas,pemerolehan nilai Bahasa Inggris menempati rangking 3 atau ke 4.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dan pengalaman selama menjadi guru anak-anak merasa kesulitan untuk menemukan arti text dalam bahasa Indonesia.Hal ini disebabkan karena dangkalnya pemerolehan kosakata,kurangnya minat belajar/jarang membuka kamus,karena mereka menganggap Bahasa Inggris tersebut sukar dan bukan bahasa kita.

Berkaca dari fenomena diatas konsep dasar dari CTL merupakan pembelajaran berdasarkan masalah (PBL).Dengan demikian didalam proses belajar mengajar siswa-siswi kita memulai pelajaran dengan menemukan masalah dalam proses KBM tersebut,hal ini sama dengan konsep yang diterapkan CTL (Oon-Seng Tan,Ph.D. Problem Based Learning Innovation).

Minimnya hasil belajar yang dicapai selain disebabkan faktor diatas ada pula karena metode yang diberikan guru masih sangat monoton,yaitu cenderung ceramah yang membuat gurunya lebih aktif sendiri ketimbang siswanya.Hal tersebut membuat mereka bosan, selain ceramah tersebut dengan menggunakan Bahasa Inggris yang susah dimengerti siswa dan juga penggunaan kosakata yang sulit dipahami oleh siswa.Jika seorang guru terus menerus menggunakan metode ceramah semakin membuat siswa tidak punya kreativitas dan inovasi,dan membosankan.Dalam penelitian A Suarna (1991) ditemukan bahwa ekspositori sangat mendominasi dalam seluruh proses belajar mengajar dari pada pendekatan inkuiri,aktivitas guru lebih menonjol dari pada aktivitas siswa, belajar lebih cenderung hafalan.

Pembelajaran yang menggunakan Contextual Teaching and Learning ini memiliki 7 asas.Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL.Ketujuh asas tersebut antara lain ;

  1. Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognisi siswa berdasarkan pengalaman.

  1. Inkuiri

Inkuiri adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis.

  1. Bertanya

Belajar pada dasarnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dianggap sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir.

  1. Masyarakat belajar

Dalam CTL, penerapan masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang aggotanya bersifat heterogen baik dilihat dari kemampuan belajar dan kecepatan belajarnya.

  1. Pemodelan

Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.

  1. Refleksi

Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajarai yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.

  1. Penilaian nyata

Penilaian nyata (authentic assesement) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak.

Dari ketujuh asas diatas nampaklah bagaimana pola CTL ini sangat membantu guru dalam ,meningkatkan proses belajar mengajar dan mengefektifkan cara belajar dan bisa membuat siswa lebih tertarik dan tidak membosankan.

Dari hasil diskusi penulis dengan sesama guru Bahasa Inggris sesungguhnya mereka belum memahami prinsip dan konsep CTL itu sebenarnya seperti apa. Metode yang sering diberikan selama ini berupa mengerjakan tugas-tugas LKS yang terkadang tanpa pembahasan dan menterjemahkan text tanpa memikirkan dampak apa yang akan dialami siswa-siswi tersebut. Mereka menjadi bosan dan menganggap pelajaran  Bahasa Inggris sangatlah sukar dipahami dan tidak ada daya tariknya. Seharusnya sebagai guru Bahasa Inggris mampu memberikan metode/cara yang menyenagkan dan bagaimana anak didik kita merasa tidak bosan belajar Bahasa Inggris tersebut.

Bertitik tolak dari permasalahan tersebut diatas maka dirasa perlu penjelasan pengembangan model Contextual Teaching and Learning. Dengan perbaikan pengajaran dengan metode ini diharapkan akan mampu memperbaiki prestasi belajar siswa,keaktifan,partisipasi dan kerjasama antar siswa.

  1. B.        RUMUSAN MASALAH

Apakah metode mengajar guru selama ini telah tepat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa? Mengingat kompleknya permasalahan maka penulis membatasi pada :

  1. Meningkatkan prestasi belajar siswa setelah diberikan perbaikan pembelajaran   dengan menggunakan model pendekatan Contextual Teaching and Learning.
  2. 2.      Bagaimana tingkat partisipasi,kerjasama dan keaktifan siswa setelah digunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning.

 

 

 

  1. C.        TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan

– Untuk mendeskripsikan guru dalam menggunakan model pendekatan Contextual  Teaching and Learning untuk meningkatkan prestasi siswa.

– Untuk mendeskripsikan tingkat partisipasi,kerjasama dan keaktifan siswa setelah  digunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning.

Manfaat

–  Sebagai bahan masukan bagi guru-guru Bahasa Inggris bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

– Sebagai bahan bagi siswa untuk meningkatkan partisipasi,kerjasama,dan keaktifan dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and learning.

  1. D.        PROSEDUR PEMECAHAN MASALAH

Masalah kurangnya aktifitas,partisipasi, dan kerjasama dalam proses pembelajaran dan prestasi siswa akan dipecahkan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning yang meliputi pola pembelajaran yang terdiri dari :a) pendahuluan, b) Inti, c) Penutup.

 

 

BAB II

 PEMBAHASAN

             

  1. 1.      Pendekatan model Contextual Teaching and Learning (CTL)

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dengan strategi pendekatan model Contextual Teaching and Learning secara benar memungkinkan tumbuhnya kemampuan kerjasama antar siswa dalam kelompok dan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang bermula dari pembelajaran dari masalah.Disamping hal tersebut diatas dengan metode Contextual Teaching and Learning lebih memudahkan siswa dalam memahami pelajaran dan membuat siswa menjadi lebih variatif dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Dari 3 konsep CTL yang telah kita paparkan pada bab sebelumnya terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan pendekatan CTL :

  1. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada artinya apa yang dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajarinya,dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
  2. Pembelajaran kontektual adalah belajar dalam rangka memperolah dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan,kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut. Artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan pribadi siswa.
  5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan, hal ini dilakukan sebagai umpan balik,untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

Dari lima karakteristik diatas jelas terlihat bagaimana pendekatan CTL ini   suatu metode/cara yang bisa digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar, karena memperoleh pengetahuan secara deduktif yakni pembelajaran dimulai secara keseluruhan lalu memperhatikan secara detail. Selain itu didalam karakteristik CTL siswa selain mempelajari secara deduktif juga langsung mengaplikasikan/mempraktekkan apa yang telah mereka peroleh dari pembelajaran metode CTL tersebut didalam kehidupan mereka sehari-hari.

Disamping metode ini memiliki strategi pembelajaran yang lebih menekankan keterlibatan siswa, siswa juga merasa mereka tidak sungkan didalam belajar karena siswa dan guru terlibat dalam diskusi serta membuat siswa semakin aktif menemukan apa yang dipelajari mereka dengan cara pemerolehan materi berdasarkan pembelajaran berdasarkan masalah.

Ada beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL menurut Sanjaya (2005 : 114 ) anatara lain :

  1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki.
  2. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami,sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berfikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang.
  3. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi juga mental dan emosi.
  4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks.
  5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu,pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning)

Dari 5 hal yang dikemukakan Sanjaya diatas jelas terlihat adanya keterkaitan hal yang satu dengan yang lain yang mampu diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Selain itu dalam pembelajaran CTL siswa belajar melalui kegiatan kelompok, kerja kelompok dan berdiskusi, saling memberi dan menerima. Selain itu dalam CTL pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil.Dalam CTL juga tujuan akhir pembelajaran adalah kepuasan diri.

Mengenai mata pelajaran Bahasa Inggris ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap 4 bidang keahlian. Adapaun 4 bidang keahlian tersebut adalah :

  1. Speaking  (keahlian berbicara)
  2. Reading  (keahlian membaca)
  3. Writing (keahlian menulis)
  4. Listening (Keahlian mendengar)

Dari 4 bidang keahlian diatas pada SMPN 03 Mukomuko khususnya siswa agak kurang memahami pada bidang keahlian yang keempat. Penyebabnya adalah tidak tersedianya laboratorium Bahasa sehingga menyulitkan siswa untuk memahami keahlian listening/mendengarkan. Dengan adanya konsep CTL ini bisa meningkatkan kemapuan siswa baik dibidang listening maupun ketiga aspek tersebut. Adapun tujuanya adalah untuk meningkatkan pemerolehan nilai UN agar dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

Dari uraian tersebut diatas maka penulis akan melakukan perbaikan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris melalui pendekatan CTL.

  1. 2.      Bahasa Inggris

Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang di UANkan yang kalau kita lihat hasilnya tidak pernah bagus khusunya dikabupaten kami ini.A dapun faktor penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap Bahasa Inggris yang disebabkan metode yang digunakan banyak yang membuat mereka bosan.

Dengan adanya konsep CTL ini diharapkan para guru mapu merubah gaya mengajar dan bisa memberikan warna baru bagi siswa kita untuk meningkatkan prestasi mereka.

Mata pelajaran Bahasa Inggris berfungsi untuk :

  1. Mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pemahaman 4 konsep dasar diatas (reading,writing,listening dan speaking ) secara integrated skill yang menjadi acuan bagi mereka dalam mengembangkan konsep CTL.
  2. Bisa menjadikan pelajaran Bahasa Inggris sebagai salah satu pelajaran faforit yang banyak manfaatnya baik pada pengembangan ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sardiman (1986) mendefenisikan bahwa belajar adalah suatu aktifitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar. Berdasarkan definisi tersebut belajar lebih ditekankan pada aktifitas yaitu proses kegiatannya, sedangkan hasil dari kegiatan belajar dikenal sebagai prestasi belajar.

Purwodarminto mengemukakan, bahwa prestasi belajar ialah hasil yang telah dicapai, dilakukan, atau dikerjakan oleh seseorang. Prestasi belajar adalah kemampuan seseorang untuk mencapai pengetahuan yang didapat melalui pengalaman belajar. Prestasi belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai rapor atau indeks prestasi. Hal ini dapat diketahui dengan mengadakan pengukuran terhadap hasil belajar. Teknik yang biasanya digunakan adalah dengan memberikan ulangan atau evaluasi pada periode-periode tertentu.

BAB  III

SIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Simpulan

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan semangat belajar siswa,sehingga siswa lebih cenderung berperan dalam memecahkan persoalan yang ditemukan dalam pelajaran dengankerjasama,diskusi kelompok. Metode CTL ini membiasakan siswa aktif,ikut serta dan bekerjasama sehingga merasa dilibatkan oleh guru mereka sehingga mampu memacu prestasi siswa. Dalam metode CTL ini adanya 3 langkah yang harus dipahami yakni pendahuluan, inti dan penutup.

  1. B.     Saran
  2. 1.      Kebiasaan guru yang selama ini mengajar dengan metode yang sifatnya monoton (ceramah) sehingga membuat siswa menjadi bosan/jenuh beralihlah ke pendekatan Contextual Teaching and Learning.
  3. Siswa diberi kesempatan dalam berkreatifitas dapat menciptakan suasana belajar aktif dan mampu menumbuhkan semangat dan prestasi siswa.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http/Sukses bersama Sukanto.Blogspot.Com/201/03/Strategi pembelajaran kontekstual. htm (Minggu, 28 Maret 2010)

http/Fandi 4 tarakan,word press.com/2010/02/17 peranan CTL dalam mengimplementasikan pembelajaran interaktif/February 17 2010

Januszewski,Alan 2008, Educational Technology,Lawrence Erlbaum associates Newyork  London

            Sardiman AM, 1990, Strategi Belajar Mengajar,Rajawali.Bandung

Seng Tan, Oon, Ph.D 2003 Problem Based Learning Innovation, Singapore

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. BangsaIndonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis,kreatif,danproduktif.

Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yan harusdipenuhi.

Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.

Perpustakaan merupakan salah satu  sarana sebagai sumber pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan. Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan perpustakaan merupakan jantung bagi kehidupan aktifitas akademik, karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perpustakaan harus menjadi sarana aktif/interaktif dan menjadi tempat dihasilkannya berbagai hal baru.

Dalam rangka pengembangan PSB, Mayer merekomendasikan empat hal yang harus dipertimbangkan, antara lain :

  1. Berorientasi kepada peserta didik (siswa)
  2. Bahan-bahan belajar diproduksi dan dipelihara secara lokal.
  3. Program media dikembangkan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran.

Pengembangan PSB yang dilaksanakan dengan beberapa hal di atas setidaknya  akan memberikan berbagai manfaat. Dalam lingkup satuan pendidikan, menurut Bambang Warsita, pengembangan PSB memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Memperluas dan meningkatkan kesempatan belajar.
  2. Melayani kebutuhan perkembangan informasi bagi masyarakat.
  3. Mengembangkan kreativitas dan produktivitas tenaga pendidik dan kependidikan.
  4. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran, baik secara individu maupun kelompok.
  5. Menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional.
  6. Mendorong cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  7. Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lanjutan untuk pengembangan sistem pembelajaran.
  8. Melaksanakan latihan bagi para tenaga pendidik dan kependidikan mengenai sistem pembelajaran dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Berdasarkan hal di atas perpustakaan sebagai pusat sumber belajar  sebaiknya dikembangkan secara maksimal sehingga dapat dimanmaatkan pula secara maksimal.

Jare Lyader (1989)  mengatakan bahwa sebenarnya ada institusi yang dibutuhkan oleh para  pakar IPTEK Serta masyarakat belajar untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka, yaitu perpustakaan, pusat Dokumentasi dan Informasi serta para pustakawan..

Berdasarkan  hal di atas perpustakaan sebagai pusat informasi sebaiknya segera memanfaatkan perpustajkaan sebagai sumber belajar di sekolah.

  1. A.    Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Seberapa besar tingkat pemanfaatan perpustakaan sebagai  pusat sumber belajar di SMP Negeri 03 Mukomuko ?
  2. Bagaimana fungsi perpustakaan sebagai pusat  sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar ?
  3. Bagaimana pengelolaan perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar?
  4. B.     Tujuan Penelitian
  5. Untuk  mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar siswa SMP Negeri 03 Mukomuko tahun pelajaran 2010/2011.
  6. Untuk mengetahui bagaimana fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar.
  7. Untuk mengetahui pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.

BAB II.

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.     Pengertian Perpustakaan

Soeatminah (2002:32) menegaskan:

“Perpustakaan merupakan lembaga yang menghimpun pustaka dan menyediakan sarana bagi orang untuk memanfaatkan koleksi pustaka tersebut. Dalam hal ini

perpustakaan terdiri dari empat unsur yakni: koleksi pustaka, pengguna perpustakaan, sarana dan pustakawan”.

 

Jadi perpustakaan adalah tempat di mana terdapat koleksi pustaka yang diatur sedemikian rupa untuk keperluan tertentu sesuai dengan maksud diselenggarakannya pengum-pulan koleksi pustaka tersebut. Dalam pengertian tersebut di atas menunjukkan bahwa harus ada lima unsur untuk terpenuhinya syarat sebuah perpustakaan, yakni: (1) merupakan sebuah lembaga; (2) memiliki koleksi bahan pustaka, baik yang tercetak maupun yang terekam; (3) ada yang menggunakan koleksi bahan pustaka; (4) memiliki sarana perpustakaan diantaranya koleksi bahan pustaka, tempat mengatur bahan pustaka, pencatatan/administrasi perpustakaan; dan (5) adanya pengelola perpustakaan yang menguasai di bidang perpustakaan atau pustakawan. Perpustakaan sebagai lembaga, mengandung pengertian bahwa suatu perpustakaan harus mempunyai status jelas sebagai lembaga. Perpustakaan harus mempunyai komponen utama yang mendukung pelaksanaannya, yaitu koleksi bahan pustaka yang tercetak maupun terekam. Perpustakaan diadakan untuk melayani para penggunanya, yang memiliki sarana ruangan/bangunan/gedung, rak tempat koleksi bahan pustaka, meja, kursi serta perlengkapan administrasinya. Perpustakaan dikelola oleh petugas perpustakaan yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan (Soeatminah, 2002:161).

  1. Menurut kamus di Ford Englis Dictionary ” kata ”library”  atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa inggris th 1374, yang berarti sebagai tempat buku-buku  diatur untuk dibaca dipelajari atau dipakaia sebagai bahan rujukan.
  2. Dalam perkembangannya lebih… pengertian perpustakaan memperoleh penghargaan yang tinggi bukan sekedar suatu gedung yang berisi koleksi buku yang dimanfaatkan masyarakat.
  3. Dalam pengertian yang mutakhir, seperti yang tercantum dalam Kepres RI no. 2 disebutkan bahwa ” perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahwa pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi dan ip Tek dan kebud dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional
  1. B.     Tujuan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan pusat sumber belajar yang membantu meningkatkan proses belajar mengajar yang memiliki tujuan sebagai berikut

  1. Merupakan rasa cinta kesadaran dan kebiasaan membaca.
  2. Memperluas pengetahuan para siswa.
  3. Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menjadikan bahan bacaan yang bermutu.
  4. Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksanaan program kurikulum di sekolah.
    1. C.      Fungsi Perpustakaan

Menurut keputusan Mendikbud no. 0103/0/1981,  tgl. 2 Maret 1981 mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Pusat kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang tercantum dalam kurikulum sekolah.
  2. Pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.
  3. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekriatif dan mengisi waktu luang             ( buku-buku hiburan)

Semua fungsi tersebut akan tergambar dalam koleksi perpustakan bersangkutan.

  1. D.      Kelembagaan  Sumber Belajar
  2. Kepala perpustakan  (unsur pimpinan)
  3. Petugas tata usaha perpustakaan (unsur pembantu pimpinan)
  4. Unsur pelaksana yang terdiri dari :
  5. Petugas pengadaan/pengelolaan bahan pustaka
  6. Petugas pelayanan (sirkulasi dan refrensi)
  7. Petugas penyuluhan atau pemasyarakatan
  8. Petugas penelitian dan pengembangan

               STRUKTUR ORGANISASI

PENANGGUNG JAWAB

KEPALA SEKOLAH

KEPALA PERPUSTAKAN

P. PELAYANAN

P.PENGADAAN

P. PENYULUH

P. PENELITIAN

BAB III.

KEADAAN PERPUSTAKAAN SMPN 3 SAAT INI

Data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian yang dilakukan melalui kegiatan obsevasi,dan wawancara meliputi: kunjungan siswa di perpustakaan, peminjaman buku,fasilitas perpustakaan, koleksi perpustakaan,  dan pemanfaatan perpustakaan di SMP Negeri 03 Mukomuko :

  1. Kunjungan Siswa di Perpustakaan

Kunjungan siswa ke perpustakaan merupakan indikator tercapainya tujuan  didirikannya perpustakaan. Sebagai perpustakaan sekolah, kunjungan siswa ke perpustakaan menjadi tolak ukur pemanfaatan perpustakaan oleh peserta didik. Dari hasil pengamatan, kunjungan siswa ke perpustakaan  yaitu pada saat jam istirahat setiap hari sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara kami kepada petugas perpustakaan rata-rata ada 75 siswa setiap hari berkunjung ke perpustakaan, dan 55 % meminjam buku.

  1. Koleksi Perpustakaan

Menurut standar koleksi buku yang ditetapkan pemerintah, koleksi buku perpustakaan yang dimiliki perpustakaan hendaknya sebanding dengan jumlah siswa (Sudibyo,1999:128) hal itu dimaksudkan agar perpustakaan sekolah dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam memanfaatkan  perpustakaan sebagai sumber belajar sehingga siswa dengan leluasa memanfaatkan koleksi tanfa harus menunggu pengembalian dari siswa lain.

Koleksi perpustakaan yang dimiliki SMPN 03 Mukomuko  baik buku fiksi maupun nonfiksi sampai pada tanggal, 14 Oktober 2010  adalah 13.380 buah, dengan rincian sebagai berikut:

IPA

  1. Biologi            :  424
  2. Fisika               :  565
  3. Kimia              :  286
  4. IPA Terpadu   :  698

Bahasa

  1. Bahasa Indonesia        :  963
  2. Bahasa Inggris                        :  596

Seni                                   :  508

IPTEK                               :  30

Sastra                                :  27

Sejarah Umum                  :  37

TIK                                   :  346

Majalah                             :  204

Kamus Bahasa Indonesia  :  11

Buku Refrensi                   :  4302

Surat kabar                        :  90

Agama                               :  639

PKn                                   :  888

MTK                                 :  741

IPS

  1. Ekonomi                      :  907
  2. Geografi                      :  17
  3. Gigrafi Sosiologi         :  291
  4. IPS Terpadu                :  292
  1. 3.      Peminjaman Buku

Perpustakaan sekolah tidak dapat dilepaskan dari buku. Adanya buku tidak akan memberikan manfaat apabila tidak di baca oleh siswa. Oleh karena itu salah satu sasaran pengguna buku perpustakaan adalah siswa. Tanfa adanaya pemanfaatan bahan pustakan oleh siswa maka perpustakaan sekolah tidak dapat memberi arti sebagai sumber belajar.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa buku-buku yang dipinjam oleh siswa lebih banyak bukan buku pelajaran. Hal ini disebabkan karena semua siswa sudah mempunyai sebagian buku pelajaran yang diadakan lewat program buku BOS.

  1. 4.      Fasilitas perpustakaan

Pemanfaatan perpustakaan tidak dapat berlangsung dengan baik apabila tidak didukung adanya fasilitas yang memadai. Fasilitas ini akan berpengaruh besar tehadap terhadap kegiatan pelayanan perpustakaan sebagai sumber belajar. Semakin baik fasilitas yang dimiliki perpustakaan akan semakin mudah pengelolaan memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan.

Berdasarkan hasil penelitian, fasilitas perpustakaan SMPN 03 Mukomuko adalah sbb.

No Nama Barang jumlah Keterangan
123

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Ruang perpustakaanRak bukuRak majalah

Rak surat kabar

Rak peta

Almari katalog

Meja pengunjung

Meja sirkulasi

Kursi pengunjung

Papan display

Komputer

Denah peminjaman

Daftar katalog

Meja pustakawan

Papan pengumuman

Mesin ketik

Alat tulis

Gambar

Struktur organisasi

AC/kipas angin

  1. 5.      Tata Tertib Dan Peraturan di Perpustakaan

 

 

  1.  Peraturan yang harus diperhatikan;
  1. Setiap siswa harus memiliki kartu perpustakaan, kegunaannya untuk prosedur peminjaman buku. Jika tidak memiliki kartu perpustakaan petugas perpustakaan tidak membolehkan meminjam buku. Jika kartu perpustakaan  Siswa hilang atau rusak, yang bersangkutan harus melapor kepada petugas perpustakaan.
  2. Siswa, guru, karyawan atau pengunjung lainnya yang memasuki ruang perpustakaan harus melapor kepada petugas perpustakaan dengan mengisi buku daftar pengunjung yang telah disiapkan petugas.
  3. Setiap peminjaman buku harus mengembaliakn sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
  1. B.      Larangan yang Harus Diperhatikan

1        Pengunjung perpustakaan tidak dibolehkan ribut atau bermain yang dapat mengganggu orang lain yang sedang membaca.

2        Pengunjung tidak boleh memakai topi, jaket serta membawa tas ke dalam ruang perpustakaan.

3        Dilarang membawa makanan dan minuman serta benda lain yang tidak berhubungan dengan perpustakaan.

4        Dilarang menyobek dan mencoret buku.

  1. C.    Sanksi Pelanggaran
  2. Setiap pengunjung yang tidak mematuhi ketentuan peraturan ketertiban perpustakaan diatas akan dikenakan sanksi.
  3. Bku, majalah, serta barang lainnya milik perpustakaan yang rusak akibat kelalaian peminjam harus bertanggungjawab sesuai dengan kebijaksanaan dan ketentuan yang berlaku diperpustakaa

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. Tipe Pusat Sumber Belajar

Pada pembahasan Pusat Sumber Belajar yang dalam hal ini adalah perpustakaan SMPN 3 Mukomuko merupakan Pusat Sumber Belajar tipe C.

Adapun struktur organisasi Pusat Sumber Belajar SMPN 3 Mukomuko adalah sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI PSB SEKOLAH SMPN 3 MUKOMUKO

Ka. SEKOLAH

Wk.Ka Sek

Ka. TU

KESISWAAN

KURIKULUM

SARANA

KOORDINATOR

PSB

PERPUSTAKAAN

LABORATORIUM

SISWA, GURU, KARYAWAN

  1. Peningkatan perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar

Untuk menghidupkan dan mengembangkan perpustakaan sangat dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya tugas pengurus/anggota perpustakaan dan institusi terkait, melainkan kita semua karena intinya usaha bersama menjaga atau mengembangkan ilmu pengetahuan. Serta merevisi atau mengkaji ulang tujuan dari perpustakaan, untuk mengintensifkan perpustakaan menjadi pusat sumber belajar.

Perpustakaan baik dalam penyediaan dan pelayanan informasi dalammenunjang tugas pokok dan fungsi lembaga induknya. Artinya memberikan pelayanan prima, yaitu suatu sikap atau cara pustakawan  dalam melayani  penggunanya dengan prinsip people bastakaan perlu memiliki atau memberikan pelayanan yang  ed service (layanan berbasis pengguna) dan service excellence  (layanan unggul). Semua ini untuk memuaskan pengguna, meningkatkan loyalitas pengguna, serta meningkatkan jumlah pengguna.

Bukan hanya pemimpin tetapi semua pengelola atau pegawai perpustakaan harus berani menampilkan “wajah baru” atau” gerakan baru” dalam arti berani melakukan terobosan baru dan paradigma baru yaitu dapat mengubah persepsi masyarakat /akademis dari perpustakaan identik dengan buku menjadi perpustakaan identik dengan informasi.

Ketergantungan pada seorang pemimpin perlu ditinggalkan dan  bergerak menciptakan kreatifitas atau inovasi yang sistematis. Pimpinan pusat (lembaga) tentunya membuka pintu yang lebar kepada semua bawahannya untuk menentukan kebijakan dalam menciptakan kreatifitas  untuk mengembangkan dan meningkatkan perpustakaan.

Upaya selanjutnya bagaimana pengelola menjalin hubungan yang baik dengan semua pihak. Hubungan dengan masyarakat  juga perlu ditingkatkan, misalnya  membuka perpustakaan keliling, pelatihan penulisan karya ilmiah, kegiatan kompetensi dalam masyarakat (lomba

synopsis, artikel, opini dan lain-lain).

Adanya Undang-undang tentang Perpustakaan yang meliputi :

1)      Kepala Perpustakaan (unsur pimpinan)

2)      Petugas tata usaha perpustakaan (unsur pembantu pimpinan)

3)      Unsur pelaksana yang terdiri atas :

–          Petugas pengadaan?pengolahan bahan pustaka.

–          Petugas pelayanan(sirkulasi dan referensi),

–          Petugas penyuluhan/pemasyarakatan, dan

–          Petugas penelitian dan  pengembangan.

  1. Strategi dan teknis pengelolaan Pusat Sumber Belajar

Pengelolaan Pusat Sumber Belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan, pengembangan/produksi, pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Kegiatan pengelolaan sumber  belajar tersebut dilaksanakan oleh suatu bagian dalam lembaga pendidikan/sekolah yang disebut Pusat Sumber Belajar.

Kegiatan Pusat Sumber Belajar yang perlu dikelola dalammenunjang kegiatan pembelajaran adalah :

1)      Kegiatan pengadaan bahan belajar, misalnya buku,film,slid, dan sebagainya.

2)      Kegiatan produksi/pengembangan bahan belajar.

3)      Kegiatan pelayanan bahan belajar

4)      Kegiatan pelatihan pengembangan media pembelajaran.

Kegiatan pengadaan bahan belajar.

Kegiatan pengadaan adalah upaya untuk memperoleh bahanbelajar, berupa bahan cetakan (buku, modul), bahan audio(kaset audio, CD, tape, dan lain-lain), bahan video (kaset video, VCD) yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Misalnya  menurut UU No 43 Th 2007 tentang perpustakaan  pasal 8 nomor 1 jumlah koleksi pada setiap perpustakaan umum dan perpustakaan khusus paling sedikit 1000 judul.  Bahan-bahan tersebut dapat dibeli di toko buku atau lembaga produksi media yang bersifat swasta yang memproduksi media  dan menjual ke umum untuk memperoleh profit atau keuntungan. Dapat juga bahan belajar diperoleh dari hibah (pemberian/sumbangan) dari individu atau lembaga-lembaga yang berminat membantu lembaga pendidikan dengan menyerahkan secara Cuma-Cuma bahan belajar yang bermanfaat untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan tersebut. Bisa juga diperoleh dari perencanaan pimpinan  sekolah (kepala sekolah)dari komite sekolah, dana operasional sekolah (rutin dan BOS) bahkan bantuan pribadi dari siswa-siswi.

Terdapat satu unit kerja di Departemen Pendidkan Nasional   yang bernama  Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan Nasional Departemen Pendidkan Nasional (dulu bernama Pustekom Depdikbud singkatan Pusat Teknologi Pendidikan dan Kebudayaan Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan) yang mempunyai fungsi untuk  memproduksi dan mengembangkan berbagai media pembelajaran. Media yang diproduksi dan dikembangkan Pustekkom  sebenarnya merupakan sumber belajar yang dirancang (by design), karena dikembangkan berdasarkan kurikulum sekolah yang berlaku saat itu, namun saat ini tercantum dalam standar isi sebagai dasar untuk mengembangkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Dengan demikian Pustekom mempunyai peranan untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui penggunaan media pembelajaran oleh para guru dalam proses belajar dan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena media pembelajaran merupakan sumber belajar yang memang dirancang untuk kegiatan pembelajaran. Materi pembelajaran yang terdapat  dalam media pembelajaran dapat memberikan kejelasan kepada murid atas materi pelajaran. Guru dengan demikian tidak lagi sibuk hanya bertindak sebagai sumber belajar utama untukmenyampaikan materi pelajaran kepada siswa, yang sering sulit dipahami oleh siswa karena sangat bersifat abstrak, dan akibatnya guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan secara individual kepada murid  yang memerlukan.

Karena itu media pembelajaran yang dikembangkan dan diproduksi Pustekkom dapat dijadikan salah satu alternatif atau pilihan untuk dikoleksi Pusat Sumber Belajar dengan cara “membeli” atau lebih tepat “mengganti ongkos produksi” dengan mengkopi media yang diinginkan/diperlukan.

Kegiatan produksi (pengembangan) media pembelajaran

 

Kegiatan produksi amat penting dan sangat diperlukan dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar  karena harus  mempunyai koleksi bahan/media pembelajaran  yang memadai untuk menunjang kegiatan diklat yang dilaksanakan, baik berupa bahan cetak maupun non cetak seperti  video, bahan audio, bahan belajar  berbantuan komputer, dan sebagainya.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kegiatan produksi dan pengembangan  bahan atau media pembelajaran  adalah walaupun kita sudah dapat menggunakan komputer pribadi  untuk membuat transparansi maupun gambar-gambar grafis yang menarik,  namun masih tetap diperlukan keterampilan dalam membuat bahan-bahan belajar yang murah (inexpensive materials) melalui penggunaan “letter guide” untuk menulis caption, membuat program animasi yang menarik, menempelkan gambar visual (mounting), memotret (still pictures), dan sebagainya. Kegiatan produksi (pengembangan) media  amat penting untuk dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar karena seperti telah dijelaskan di atas Pusat Sumber Belajar harus mempunyai koleksi bahan/media pembelajaran yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran  yang dilaksanakan di sekolah. Bahan cetakan seperti modul, pengajaran terprgram sebagai media pembelajaran yang mampu berkomunikasi (berinteraksi) dengan peserta belajar, dan bahan-bahan belajar lainnya yang bersifat non cetak seperti kaset (rekaman) audio, kaset (rekaman) video, VCD, slide suara, filmstrip, film, bahan berbasis komputer, dan sebagainya perlu dikembangkan atau diproduksi sendiri oleh Pusat Sumber Belajar, sehingga bahan-bahan belajar yang ada di PSB dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran secara optimal.

Agar mampu memproduksi bahan belajar yang diperlukan dalam melaksanakan  kegiatan pembelajaran di sekolah, baik yang bersifat “instructor dependen instruction” maupun “instructor independen instruction”  sudah pasti diperlukan SDM yang mempunyai kemampuan di dalam merancang, memproduksi dan mengembangkan media pembelajaran. Selain itu juga diperlukan seperangkat sarana dan peralatan produksi yang memadai untuk memproduksi berbagai jenis media pembelajaran yang diperlukan. Dan sudah barang tentu juga diperlukan dana atau anggaran yang tidak kecil untuk melaksanakan kegiatan produksi media pembelajaran yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pelayanan media pembelajaran.

Kegiatan pelayanan adalah fungsi yang langsung berhubungan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar karena keberadaan PSB  dengan semua personel dan sarana serta peralatan adalah dimaksudkan untuk memberikan pelayanan berupa pemanfaatan berbagai jenis bahan dan media  belajar untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Pelayanan yang diberikan dalam kaitan ini sesungguhnya sama dengan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan di dalam membantu guru dan peserta belajar/siswa berupa peminjaman bahan-bahan cetakan      untuk memudahkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Bahan-bahan yang dikoleksi Pusat Sumber Belajar yang dimanfaatkan baik oleh guru maupun peserta belajar dapat dibeli di tempat-tempat yang menjual bahan atau media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah misalnya toko buku, toko VCD dan atau kaset rekaman audio/video, atau dapat diperoleh melalui hibah dari lembaga-lembaga yang ada hubungannya dengan pendidikan sekolah seperti departemen, kedutaan luar negeri, dan sebagainya

Untuk memudahkan pelaksanaan sirkulasi pelayanan bahan dan media belajar yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran tertentu, perlu mengklasifikasi bahan-bahan yang sudah berhasil diproduksi dan kemudian memberikan”entry number” untuk setiap bahan yang disimpan.

Bila Pusat Suber Belajar sudah berkembang dengan pesat, di mana koleksi media sudah cukup banyak jumlahnya dan jenisnya, pelayanan pemanfaatan     media ini dapat diberikan juga kepada pihak-pihak lain di luar kepentingan sekolah sendiri, misalnya sekolah lain.

Kegiatan pelatihan media pembelajaran.

Fungsi  pelatihan  adalah fungsi keempat Pusat Sumber Belajar yang ditujukan untuk membantu pihak lain di luar sekolah sendiri yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi dan mengembangkan bahan belajar/media pembelajaran. Fungsi ini tentu saja dapat dikerjakan bila PSB sudah bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa sehingga  memiliki SDM yang memadai dalam produksi dan pengembangan media pembelajaran serta peralatan dan sarana yang  memadai  untuk mendukung kegiatan produksi dan pengembangan berbagai media pembelajaran.

BAB  V

PENUTUP

  1. Kesimpulan

–          Perpustakaan bukan hanya milik satu lembaga melainkan milik kita semua.

–          Setiap perpustakaan harus dapat memberikan pelayanan yang prima dan terbaik.

–          Dalam pengelolaan dapat menjalin hubungan dengan semua pihak atau institusi dengan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan. Membuat hubungan dengan masyarakat yang ada di sekitar perpustakaan tersebut,.

  1. Saran

–          Untuk meningkatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar maka perpustakaan harus dapat melaksanankan tugasnya sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.

–          Perpustakaan dapat mengikuti perkembangan zaman yang ada serta memperbanyak sumber referensi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

DAFTAR PUSTAKA

–          Johanes Sapri,2010.”Materi Perkuliahan Pengelolaan Program Magister Teknologi Pendidikan, Universitas Bengkulu.

–          Johanes Sapri,2010.”Materi Perkuliahan Prgram Magister Teknologi Pendidikan PSB (Pusat Sumber Belajar).

evaluasi CIPP

MODEL EVALUASI CIPP
Model evaluasi ialah model disain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap pembuatannya. Model-model ini dianggap model standar atau dapat dikatakan merek standar dari pembuatannya.

Stafflebeam (1969, 1971, 1983, Stufflebeam & Shinkfield 1985) adalah ahli yang mengusulkan pendekatan yang berorientasi kepada pemegang keputusan (a decision oriented evaluation approach structured) untuk menolong administrator membuat keputusan. la merumuskan evaluasi sebagai “Suatu proses menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan” (Stafflebeam 1973 hal. 127). Dia membuat pedoman kerja untuk melayani para manajer dan administrator menghadapi empat macam ke putusan pendidikan, membagi evaluasi-menjadi empat macam yaitu:

1. Context Evaluation

Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek. Contoh pengajuan pertanyaan, untuk evaluasi yang diarahkan pada program makanan tambahan anak sekolah (PMTAS). Ada empat pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan evaluasi konteks, yaitu sebagai berikut :

a. Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program, misalnya jenis makanan dan siswa yang belum menerima?
b. Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai oleh program, misalnya peningkatan kesehatan dan prestasi siswa karena adanya makanan tambahan?

c. Tujuan pengembangan apakah yang dapat membantu mengembangkan masyarakat, misalnya kesadaran orang tua untuk memberikan makanan bergizi kepada anak-anaknya?

d. Tujuan-tujuan mana sajakah yang paling mudah di capai, misalnya pemerataan makanan, ketepatan penyediaan makanan?
2. Input evaluation

Maksud dari evaluasi masukan adalah kemampuan awal siswa dan sekolah dalam menunjang PMTAS, antaralain kemampuan sekolah dalam menyediakan petugas yang tepat, pengatur menu yang  andal, ahli kesehatan yang berkualitas, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk program pendidikan yang berkenaan dengan masukan, antara lain :

a. Apakah makanan yang diberikan kepada siswa berdampak jelas pada perkembangan siswa?

b. Berapa orang siswa yang menerima dengan senang hati atas makanan itu?

c. Bagaimana reaksi siswa terhadap pelajaran setelah menerima makanan tambahan?

d. Seberapa tinggi kenaikan nilai siswa setelah menerima makanan tambahan?

Menurut Stufflebeam pertanyaan yang berkenaan dengan masukan mengarah pada masalah yang mendorong diselenggarakan program bersangkutan.

3. Process Evaluation

Evaluasi proses dalam CIPP menunjuk pada “apa” (what) kegiatatn yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program , “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Oleh Stufflebeam diusulkan pertanyaan-pertanyaan untuk proses antara lain sebagai berikut :

a. Apakah pelaksaan program sesuai dengan jadwal?

b. Apakah staf yang terlibat di dalam pelaksanaan program akan sanggup menangani kegiatan selama proses berlangsung dan kemungkinan jika dilanjutkan?

c. Apakah sarana dan prasarana yang disediakan dimanfaatkan secara maksimal?

d. Hambatan-hambatan apa saja yang dijumpai selama pelaksanaan program dan kemungkinan jika program dilanjutkan?

4. Product Evaluation

Evaluasi produk atau hasil diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada masukan mentah, dalam contoh PMTAS adalah siswa yang menerima makanan tambahan. Evaluasi produk merupakan tahap akhhir dari serangakaian evaluasi program. Dalam program PMTAS, pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain:

a. Apakah tujuan-tujuan yang ditetapkan sudah tercapai?

b. Pertanyaan-pertanyaan apakah yang mungkin dirumuskan berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan?

c. Dalam hal-hal apakah berbagai kebutuhan siswa sudah dapat dipenuhi selama proses pemberian makanan tambahan (misalnya variasi makanan, banyaknya ukuran makanan dan ketepatan waktu pemberian)?

d. Apakah dampak yang diperoleh siswa dalam waktu yang relatif panjang dengan adanya program makanan tambahan itu?

sumber :

Arikunto, Suharsimi, Prof. Dr., 2008. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara

disadur dari: http://rikisetiawan.wordpress.com/2009/04/03/model-evaluasi-cipp

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.